Minggu, 31 Maret 2013

Cerpen Jalan kenangan hingga sebuah impian



Coretan tinta di atas kanvasku ini menggambarkan betapa besar cintaku padanya, seseorang yang hanya mampu kujamah dalam mimpi dan anganku. Sebuah cinta yang tak mampu kurealisasikan dalam kehidupan nyata, sepenggal cinta yang hanya mampu menjadi cerita usang dalam sejarah hidupku yang singkat ini. Sebelumnya aku tak pernah ingin mengenal cinta  karena bagiku cinta hanyalah lelucon orang-orang bodoh yang mampu membuat seseorang tersenyum, dan bersedih dalam sekejap mata. Namun kini kusadar cinta itu ibarat pelangi yang mampu memberikan warna dalam setiap waktu, mampu memberikan kebahagiaan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata manusia, dan aku pun tahu rasa kecewa yang muncul karena cinta hanyalah sebuah ujian dan konsekuensi akibat mencinta.,
            Akupun  sudah mulai menjelajahi setiap sudut cinta itu, berusaha mencari sosok-sosok cinta yang selama ini ada dalam mimpi dan anganku, sosok manusia yang mampu menjadi sandaran dan tempat untukku berkeluh kesah, hingga akhirnya bukan aku yang menemukannya bukan pula dia yang menemukanku namun Sang Maha cintalah yang mempertemukan kami. Berawal dari ketidak sengajaan sebuah pesan singkat yang sebenarnya biasa-biasa saja namun ternyata menjadi awal dari sebuah mimpi indah yang tidak lagi menjadi sebuah mimpi namun menjadi sebuah cerita panjang yang mampu melengkapi kisah hidupku.
            Pesan pertama itu pun melahirkan sebuah hubungan perkenalan namun setelah perkenalan singkat hingga rasa penasaran akan sang pemilik pesan mulai muncul seketika hingga saling berkirim pesan pun mulai terjadi, setiap hari komunikasi menjadi sebuah kewajiban, terus menerus hingga Intensitasnyapun berubah. Setiap watuku tak pernah kubiarkan sia-sia tanpa mengirim pesan ataupun mendengarkan suara itu via telepon. Hingga kusadari benih-benih cinta untuknya makin kuat. Aku yakin aku mecintainya, aku membutuhkanya, dan aku menginginkannya menjadi pengisi kekosongan hatiku.
            Setiap jengkal langkahku penuh dengan mimpi bersamanya. Namun saat ini kutak mampu mengatakan apapun hanya menunggunya menyatakan cinta dan terus mengirimkan sinyal-sinyal cintaku. Hari berganti hari, kulalui dengan tak sabar berharap ungapan cinta darinya segera tercurah, namun rasa kecewa menghampiriku saat penantianku tak kunjung terjawab hingga kuserahkan segalanya kepada-Nya sang maha cinta.
            Satu bulanpun berlalu dan tetap kuisi dengan penantian-penantian akan cintanya, sebenarnya ini adalah hal yang aneh karena aku mencintainya tanpa pernah melihat sosoknya, tanpa pernah menatap matanya, tanpa pernah menyentuhnya dengan jari tanganku. Aku mencintainya tanpa tahu apa yang membuatku cinta. Hingga suatu hari sebuah pesan singkat darinya datang, aku membukanya dengan perasaan aneh, tak seperti biasanya.
            “ Bagaimana jika aku yang mencintaimu “
            Singkat namun sarat akan makna, membuat pipiku merona jingga tak tau harus kujawab apa tanpa kukomando jari-jariku mulai menari di atas keyboard handphoneku.
            “ aku tidak percaya, aku tau kau hanya bercanda, dan aku tidak akan membalas cintamu”
            “ tapi jika aku serius ?”
            “ maka aku akan menerimamu”
            “ dasar plin-plan”
            “ tidak aku tidak plin-plan”
            “hmm, iya aku hanya bercanda”
            “ bercanda apa?”
            “bercanda mengatakan dirimu plin-plan”
            “oh., aku kira kau bercanda mencintaiku”
            “ yah, itu juga hanya bercanda”
            Setelah membaca pesannya yang satu ini, titik-titik embunpun mulai berjatuhan dipelupuk mataku, rasa kecewa mulai menjelajahi hatiku, akhirnya kubalas pesannya dengan sebuah kalimat yang mengutarakan kekecewaanku.
“ oh, hanya bercanda ? baiklah maafkan aku ! mungkin salahku mencintaimu yang tak anggapku ada. Aku ingin kau anggapku tak pernah ada, dan jangan pernah menghubungiku lagi”
            Kutekan tombol send hingga pesan itu terkirim padanya, rasanya sangat aneh, dia bahkan tak tahu aku mencintainya namun kenapa aku berani mengatakan seperti itu ?”tanyaku dalam hati. Tangisku sudah tak mampu kubendung lagi titik-titik air mataku mulai bercucuran ingin rasanya kubunuh rasa cinta ini. Membunuh hati yang merasa mencintainya. Namun, tak lama kemudian dia membalas pesan kekecwaan dariku dengan kalimat yang membuat perasaanku tak menentu.
            “ baiklah aku akan lakukan jika itu maumu, tapi sebenarnya aku mencintaimu,  lebih baik besok     kita bertemu. Aku sangat ingin mengatakan isi hatiku tanpa sebuah perantara”
            “ ok, aku sudah tak sabar ingin menemuimu”
……………………….
            Saat mentari mulai menampakkan sinarnya, aku terbangun dari tidurku, semalam aku sangat berharap fajar segera muncul dan pagi ini aku berharap segera bertemu denganya. Ingin rasanya segera melihat sosok pria sangat kucintai ini.
            Tibalah waktu yang sangat kunantikan ini, bertemu dengannya, melihat senyumnya, menyentuhnya dengan jemari tanganku dan semua yang selama ini hanya bisa kulakukan dalam mimpi dan khayalku. Aku menunggu dengan hati yang tidak karuan, bolak balik kesana – kemari tanpa tujuan dan seketika tubuhku meleleh saat dia datang dan menyebut namaku.
            “dhee ?”
            “ya, ini aku, kau ?”
            “ya, ini aku, aku mencintaimu”
            “sungguh?”
            “ya aku bersungguh-sungguh”
            Banyak hal yang ingin kami bicarakan, namun karena waktu yang tidak tepat kami memutuskan melanjutkan pembicaraan melalui telepon. Berselang beberapa menit kemudian diapun meneleponku meminta jawaban dari ungkapan isi hatinya, dan aku pun menerimanya. Bersedia menjadi pacarnya, bersedia mencintainya dalam situasi apapun, dan benjanji pada diriku sendiri kan menjadi yang terbaik untuknya. Hari ini menjadi catatan penting dalam hidupku pada tanggal 14 Februari 2012 aku menemukan sebuah pena baru yang kuyakin akan mengukir kebahagiaan dalam hidupku.
Pengorbanan dan kesetiaan slalu ada mendampingi kisah kami. Dia sosok pria yang sangat mengerti ingin hatiku, dia mampu membuatku merasa berharga dan istimewa, melakukan apapun yang kuinginkan dan yang kuyakin dia selalu memberiku cinta dalam setiap hembusan nafasnya.
Beberapa bulan hubungan yang terasa indah ini tergantikan dengan uraian air mata. Janjipun mulai kuingkari, aku berbohong padanya agar ia tak terluka namun kebohonganku itu malah menyakitinya. Aku tak mampu saat kulihat ia meneteskan air mata karenaku, aku tak mampu saat kutatap matanya yang penuh dengan kesedihan, sungguh aku begitu mencintainya. Aku ingin melihatnya tersenyum  seperti dulu lagi, aku ingin membahagiakannya.
Hari demi hari pun kami lalui dengan rasa sakit dan kecewa yang masing-masing kami derita. Ia merasa sakit dan kecewa karena kebohonganku dan aku merasa sakit karena sikap dan kasih sayangnya yang kini sudah mulai berubah. Dia lebih dingin, seolah-olah aku hanya orang yang tanpa sengaja memegang kehormatan sebagai pacarnya yang sbenarnya hanyalah patung baginya.
Kisah kami yang dulu begitu indah telah berubah, bulan demi bulan kami lalui dengan air mata. Kebohonganku padanya menjadi alasan rasa sakit itu. Aku bahkan pernah beberapa kali memutuskan untuk menyerah dan menyudahi hubungan kami, namun dia slalu mengatakan dia mencintaiku dan itu membuatku tak mampu berpisah dengannya karena kenyataannyapun aku begitu mencintainya.
Dengan kesabaran yang ekstra lagi hubungan kami terus berlanjut hingga mencapai tahun pertama, beberapa hari menjelang hari valentine yang memang bertepatan dengan hari satu tahun hubungan kami sesuatu yang menyakitkan terjadi lagi. Ia memutuskan untuk berpisah denganku, dengan alasan sudah tak tahan dengan sikapku yang setiap harinya hanya terus mengeluh dan mengeluh. Di satu sisi aku tak mampu menerima karena kutahu hatiku begitu terluka, namun disisi lain aku sadar dengan jauh darinya dia akan melupakan semua tentangku, dia pasti bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang tak pernah kuberikan untuknya hingga akhirnya  akupun menyetujuinya. Terbersit dalam ingatanku akan seuntai kalimat yang pernah ia ucapkan.
“ Selama kau yang meminta untuk berpisah aku tidak akan pernah menyerah tuk yakinkan cinta itu, namun ketika aku yang memutuskan mengakhiri semuanya itu berarti aku memang sudah tak mampu untuk bersamamu”
            Dan hari itu aku tahu kalau dia memang sudah tak mampu, kusadari itu namun kutak inginkan itu. Awalnya aku memang menerima keputusan itu namun aku rasa hatiku tak mampu, aku berusaha memperbaiki hubungan itu kembali. Meminta maaf dan meyakinkannya akan cinta kami, dan ternyata diapun setuju, dia tetap meminta maaf, berkata telah khilaf, dan berkata mencintaiku. Hingga semuanya kembali seperti sebelumnya.
            Dia tetap menjadi kekasihku, dia tetap menjadi pria yang paling kucintai, dia tetap menjadi yang terbaik untukku. Namun aku tak tau bagaimana aku untuknya. Hubungan kami kembali terjalin, setia tetap menjadi prinsipku. Aku tetap bersabar dan bertahan berharap dirinya yang dulu kembali kumiliki. Namun kenyataannya aku tak mampu membohongi hatiku, aku tetap merasa kecewa, dan menderita. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, dalam hatiku selalu kuyakini kalau aku seorang wanita yang kuat,  aku mampu bertahan disisinya, aku mampu mencintainya hingga akhir hayatku, hatiku mampu setegar karang bertahan walau terhempas ombak berkali - kali. Aku juga tak mau menjadi seseorang yang dengan mudahnya mengobral janji setia lalu dengan mudahnya pula mengambil keputusan untuk berpisah.
            Cintaku padanya memang sulit tuk ku deskripsikan menjadi sebuah narasi yang indah. Karena cinta itu tak mampu tuk dijelaskan oleh apapun dan siapapun kecuali diri-Nya. Cinta kami kini sudah tak jelas kemana arahnya, walau kami tetap memegang komitmen tetap berpacaran namun seiring waktu berjalan, semuanya mulai berubah, hubungan kami menjadi renggang, komunikasipun tidak terjalin lagi, hingga aku kehilangan kontak dengannya. Sekarang aku kembali pada mimpi dan khayalan tentangnya, tentang cinta, dan cita-cita untuk tetap bersama, sembari menunggu takdir mempertemukan kami kembali dalam mahligai cinta yang lebih indah bernama pernikahan.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar